Senin, 30 Desember 2013

Cerpen Berpendidikan

My Sela
Oleh : Vika Conie Fatwa
 
Saat Febby duduk di meja makan untuk menunggu pasakan selesai, Ayahnya sedang memakai sepatu karena akan pergi kerja dan Ibu sedang memasak di dapur. Sementara itu Sela belum keluar kamar dan belum ikut berkumpul di meja makan untuk sarapan. Memang Sela itu selalu menghabiskan waktu di kamar dengan ditemani kegiatannya seperti membaca novel dan mendengarkan musik. Tidak seperti Febby yang selalu menghabiskan waktu dengan keluarga di ruangan tengah seperti nonton TV. Setelah pasakan sudah beres, barulah Sela keluar kamar untuk sarapan.
“Ayah, Ibu. Hari ini Sela akan pulang agak telat, karena di sekolah ada kegiatan ekstrakulikuler dulu. Jadi mungkin Sela pulang jam 4 sore.” Ucap Sela sambil minum susu yang telah disediakan oleh ibunya.
“iya Sel, asal kamu hati-hati saja, kalau kegiatan sudah beres segera kamu pulang, jangan main kemana-mana dulu!” jawab ibu.
“iya bu, Sela pasti langsung pulang, lagian cape kalau sudah beres ekskul.” Jawab Sela lagi sambil menggendong tas dan bersalaman dengan ibu dan ayahnya.
“kamu kenapa ga berangkat sekolah bareng Ayah dan Febby aja Sel pake mobil Ayah? Sebentar lagi juga Ayah beres ko sarapannya.” Tanya ayah.
“udah deh Ayah, biarin ka Sela berangkat sendiri aja, lagian kalau berangkat bareng kita, dia juga pasti diem terus.” Jawab Febby dengan muka kesal.
“apaan sih kamu Feb?” jawab Sela sambil pergi meninggalkan ruang makan.
Sela sudah pergi berangkat duluan ke sekolahnya sendiri menggunakan taxi. sedangkan Ayah dan Febby berangkat setelah mereka menghabiskan makanan yang ada di piringnya. Sela di sekolahnya menjadi anak yang pintar dan mendapatkan peringkat pertama dari semester pertama hingga sekarang ini. Sekarang dia sudah kelas 11 di SMA Bhakti Tunas Bangsa yang menjadi sekolah favorit. Sela di sekolahnya menjadi anak yang pendiam dan jarang keluar kelas. Dia selalu membaca koleksi novel-novelnya atau mendengarkan musik dengan menggunakan headset kesayangannya yang berwarna biru.
Setelah bel istirahat, Sela dan Windi pergi ke perpustakaan. Windi adalah teman sebangkunya Sela. Windi teman yang baik dan pengertian, Sela sudah dekat sekali dengan Windi. Mereka mencari buku Geografi yang akan dipelajari selanjutnya setelah bel masuk. Sementara itu, Febby sekolahnya masih SMP kelas 9 di SMP Bhakti Cipta. Sekolah itu juga adalah sekolah SMP favorit. Kelakuan Febby berbeda jauh dengan kakaknya. Febby lebih suka bermain bersama teman-temannya di kantin daripada di perpustakaan.
Suara bel di SMA Bhakti Tunas Bangsa dan SMP Bhakti Cipta telah berbunyi. Seperti yang Sela katakan, dia tidak langsung pulang melainkan dia melakukan kegiatan ekskul terlebih dahulu. Berbeda halnya dengan Febby, pulang sekolah dia menelpon ibunya.
“hallo bu Assalamualaikum, bu maaf Febby ngga bisa langsung pulang ke rumah, karena Febby mau ngerjain tugas dulu di rumah teman”. Ucap Febby di telponnya.
“Waalaikumsalam iya Febby, asalkan jangan lama-lama. Usahakan kamu pulang bersama kakakmu ya?” jawab ibunya.
“iih Ibu apaan sih? Kenapa harus pulang sama ka Sela. Febby ga mau, Febby bisa pulang sendiri ko bu. Terimakasih ya bu. Assalamualaikum”. Jawab Febby sambil menutup telponnya.
Tapi Febby bukannya mengerjakan tugas, melainkan Febby malah main bersama teman-temannya ke Mall yang tidak jauh dari sekolahannya. Dia asik berbelanja dan menghabiskan uang yang diberi oleh Ayahnya untuk membeli barang yang tidak penting. Sedangkan Sela setelah selesai ekskul, dia langsung segera pulang ke rumah dengan wajah yang kusut karena lelah.
“Sel, kamu ga makan dulu?” tanya ibu.
“engga bu, nanti saja sekalian makan malam. Sekarang Sela cape dan gerah. Sela mau mandi dulu Bu.” Jawab Sela sambil naik tangga dan masuk kamar.
Jam 7 malam, Febby belum saja pulang ke rumah sedangkan ayahnya sudah ada di jalan menuju pulang. Sela masih saja diam di kamar karena kelelahan. Ibu menelpon Febby terus menerus. Namun Febby tidak mengangkatnya. Dia membuat Ibu sangat cemas. Bel rumah berbunyi dan setelah pintu dibuka ternyata Febby sudah pulang. Ibu segera memarahi dan menyuruh Febby untuk segera mandi dan makan malam bersama.
Ayah sudah pulang. Ayah bergegas ke kamar dan setelah itu mandi kemudian makan malam. Sela keluar kamar menuju ke ruang makan. Mereka makan malam bersama tanpa ada percakapan sedikitpun. Setelah makan malam selesai. Semua bubar dan melanjutkan tidur di kamar karena semua kelelahan.
KRIIIIIIIIIIINNNNNNNGGG!!! KRRIIINNGG!!! suara jam beker berbunyi membangunkan tidur Sela yang sangat nyenyak itu. BRUUKK. Karena Sela masih merasa ngantuk. Tak ragu-ragu dia memukul jam beker itu. “siiaaal, berisik banget sih ini jam.” 5 menit kemudian Sela bangun dan langsung menuju ke kamar mandi untuk mandi. Ternyata Febby sudah lebih dulu masuk ke kamar mandi.
“Heii, siapa nih? Cepetan dong. Sela udah ga kuat kebelet.” Tanya Sela sambil mengedor ngedor pintu kamar mandi.
“ini gue Sel. Tunggu bentar napa sih? Tanggung nih belum kelar.” Sentak Febby.
“kamu itu ga bener Feb, sama kakak kamu sendiri, kamu jawabnya kaya gitu. Makanya jangan gaul sembarangan dong!” serang Sela.
“maud amu apa ih?” jawab febby sambil menggosok giginya.
“kamu ngomong apa Feb?” tanya Sela.
“maksud kamu apa sih?” tanya Febby lagi sambil berkumur-kumur.
“emangnya kakak ga tau apa kelakuan kamu diluar Feb? Kemarin kan kamu ke Mall. Bukan ngerjain tugas? Kakak bilangin ke Ibu, baru kamu tahu rasa!” ancam Sela dengan mondar-mandir karena tak tahan menahan rasa ingin buang air kecil.
“HAAAAAAHH? Lo tau darimana Sel?” bentak Febby dengan raut wajah yang tegang.
“jangan banyak nanya, sekarang cepetan kamu keluar. Kakak tak kuat ingin buang air kecil.” Jawab Sela sambil tertawa kecil karena Sela hanya mengada-ngada tentang pernyataan tersebut namun tetapi pernyataan itu memang benar.
“Sel, please lo jangan bilang semua ini ke Ibu yaaaa?” pinta Febby sambil keluar dari kamar mandi.
“tergantung kamu Feb, sopan dong kalo jadi orang!” jawab Sela sambil masuk ke kamar mandi.
“oke gue ngalah. Kakak gue yang cantik. Gue minta maaf ya? Please kakak ngga bilang apapun sama Ibu dan Ayah.” Pinta Febby lagi dengan memohon-mohon.
Sela tidak menjawab Febby dan melanjutkan mandinya. Setelah selesai mandi. Ia segera memakai seragam dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Setelah semuanya selesai. Meraka berkumpul di ruang makan dan sarapan roti bakar yang telah di sediakan oleh Ibu. Hingga habis dan seperti biasa Ayah berangkat kerja, Febby dan Sela sekolah.
Tidak seperti biasanya, pagi itu Sela diajak untuk pergi berangkat sekolah secara tiba-tiba oleh Febby dengan menggunakan mobil Ayahnya. “mungkin Febby sudah bisa dewasa” pikir ayahnya. Mereka berangkat bersama-sama pagi itu.
Gara-gara ancaman Sela itu kepada Febby. Sekarang Febby berubah menjadi baik. gara-gara ancaman itu juga Febby sekarang jadi tidak pernah berbohong lagi kepada orang tuanya. Mungkin berkat ancaman Sela yang membuat efek jera terhadap Febby. Uang yang ayahnya berikanpun dia kumpulkan, tidak digunakan untuk shoping bersama teman-temannya lagi. Perubahan yang amat sangat baik dari dalam diri Febby yang membuat orang tuanya kagum terhadap sikap barunya itu.
Disekolahan, Febby sekarang menjadi anak yang rajin. Guru-gurunya ikut kagum dengan perubahan yang di alami oleh Febby. Intinya sekarang Febby benar-benar menjadi gadis yang baik dan manis. Bel pulang di sekolahan Sela dan Febby berbunyi. Itu waktunya untuk pulang. Sela menelpon Ibunya untuk izin pulang telat karena Sela akan pergi ke toko buku dengan Windi.
“Assalamualaikum Ibu. Bu Sela hari ini pasti akan pulang telat Bu. Sela minta izin karena Sela hari ini akan pergi ke toko buku bersama Windi.” Ucap Sela mengawali pembicaraan.
“Waalaikumsalam. Oh iya nak silahkan, asalkan hari-hati saja ya Sela. Bila sudah selesai hendaklah pulang!” jawab ibu dengan suara yang cemas.
“iya Bu. Sela pasti akan langsung pulang bu. Sebelumnya Sela ingin minta maaf terlebih dahulu kepada Ibu. Maafkan Sela ya bu bila Sela mempunyai kesalahan? Sela sayang Ibu. Terimakasih Bu. Assalamualaikum.” Ucap Sela dengan senyuman manis.
“iya anakku. Ibu memaafkanmu. Ibu menyayangimu nak. Hati-hati Sel. Waalaikumsalam.” Jawab ibu.
Sebelum Sela berangkat, tidak seperti biasanya Sela mengirimkan pesan singkat kepada Febby dan Ayahnya.
Assalamualaikum Ayah, Febby. Sela ingin meminta maaf kepada Ayah dan Febby. Karena Sela takut mempunyai kesalahan. Terutama sama kamu Feb. Kakak minta maaf ya? Sela sangat menyayangi Ayah dan Febby adikku yang manis. Wassalamualaikum.
Ayahnya membalas pesan singkatnya itu dengan sebuah pesan singkat lagi.
Waalaikumsalam Iya Sel. Ayah maafkan kamu. Ayah juga minta maaf kalo Ayah belum bisa penuhin semua kemauan kamu karena Ayah selalu memenuhi keinginannya Febby dulu dibanding kamu. Karena kamu juga pasti tau kan Febby seperti apa? Ayah sayang padamu Sel. Wassalamualaikum.
Namun Febby tidak membalas pesan singkat dari Sela karena isi baterai handphonenya sudah habis jadi handphone itu mati. Setelah shalat Dzuhur. Sela dan Windi berangkat menggunakan sepeda motor milik Windi. Mereka membeli buku novel terbaru yang mereka sukai. Sela juga membeli novel yang isinya tentang persaudaraan yang nanti akan dibungkus menjadi hadiah bingkisan untuk Febby yang besok ulang tahun.
Novel itu sudah dibungkus dan tertempel selembar kertas bergambar boneka beruang dengan tulisan UNTUK FEBBY ADIKKU TERSAYANG. Dijalan menuju pulang, rem motor Windi tiba-tiba tidak bisa digunakan sedangkan didepan ada tikungan dan dari arah sebelah kiri ada bus yang sedang melaju kencang. Motor Windi tidak bisa dikendalikan. DUUAARRKK. Bunyi sirine ambulance membuat jalanan itu menjadi ramai. Semua orang berkumpul.
Jam 4 sore. Febby baru pulang dari sekolah karena kebetulan di sekolahnya ada kegiatan ekskul. Rumahnya sudah banyak orang yang berkumpul dengan menggunakan baju hitam dan didepan rumahnya ada bendera kuning. Di sudut gang. Febby langsung berlari menuju rumah dengan perasaan tak enak. Sesampainya di rumah. Febby melihat ayah dan ibunya menangis sambil membacakan surat yasin di samping Sela yang sekujur tubuhnya telah ditutup. Febby menghampiri ayah dan ibunya dengan menangis.
“Apa yang terjadi ayaaah? Ibuuu?” tanya Febby dengan histeris.
“Sela, Sela sudah tidak ada Feb.” Jawab ibunya sambil menangis dan memeluk Febby.
“apaa? Itu ga mungkin bu. Itu ga mungkiiiin.” Jawab Febby sambil menangis dan berteriak kencang.
“pasrahkan sayang. Kakakmu tadi kecelakaan tertabrak bus saat di jalan menuju pulang.” Jawab ayahnya sambil ikut merangkul Febby.
Disamping ayahnya, ada sebuah bingkisan terakhir dari Sela untuk Febby. Bingkisan itu adalah hadiah yang tadi Sela beli untuk Febby yang besok akan berulang tahun. Hadiahnya sangat indah dengan hiasan pita-pita dan isinya juga adalah novel yang bagus. Febby sangat menyukainya.
Saat pemakaman selesai. Semua kembali pulang meninggalkan Sela kecuali Febby yang masih menangis sambil memeluk papan nisan yang bertuliskan “Sela Qadira lahir pada 13-08-1995 wafat 03-11-2012”. Febby tak henti menangis karena menyesali perilaku dia terhadap kakaknya waktu selama kakaknya masih ada. Febby juga menyesal karena tadi handphonenya mati sehingga ia tidak mendapatkan pesan singkat dari Sela dan belum sempat mengucapkan bahwa “Febby sayang kak Sela”.
Selesai ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar