My Sela
Oleh : Vika Conie Fatwa
Saat Febby duduk di meja makan untuk menunggu
pasakan selesai, Ayahnya sedang memakai sepatu karena akan pergi kerja dan Ibu
sedang memasak di dapur. Sementara itu Sela belum keluar kamar dan belum ikut berkumpul
di meja makan untuk sarapan. Memang Sela itu selalu menghabiskan waktu di kamar
dengan ditemani kegiatannya seperti membaca novel dan mendengarkan musik. Tidak
seperti Febby yang selalu menghabiskan waktu dengan keluarga di ruangan tengah
seperti nonton TV. Setelah pasakan sudah beres, barulah Sela keluar kamar untuk
sarapan.
“Ayah,
Ibu. Hari ini Sela akan pulang agak telat, karena di sekolah ada kegiatan
ekstrakulikuler dulu. Jadi mungkin Sela pulang jam 4 sore.” Ucap Sela sambil
minum susu yang telah disediakan oleh ibunya.
“iya
Sel, asal kamu hati-hati saja, kalau kegiatan sudah beres segera kamu pulang,
jangan main kemana-mana dulu!” jawab ibu.
“iya
bu, Sela pasti langsung pulang, lagian cape kalau sudah beres ekskul.” Jawab
Sela lagi sambil menggendong tas dan bersalaman dengan ibu dan ayahnya.
“kamu
kenapa ga berangkat sekolah bareng Ayah dan Febby aja Sel pake mobil Ayah?
Sebentar lagi juga Ayah beres ko sarapannya.” Tanya ayah.
“udah
deh Ayah, biarin ka Sela berangkat sendiri aja, lagian kalau berangkat bareng
kita, dia juga pasti diem terus.” Jawab Febby dengan muka kesal.
“apaan
sih kamu Feb?” jawab Sela sambil pergi meninggalkan ruang makan.
Sela sudah pergi berangkat duluan ke sekolahnya
sendiri menggunakan taxi. sedangkan Ayah dan Febby berangkat setelah mereka
menghabiskan makanan yang ada di piringnya. Sela di sekolahnya menjadi anak
yang pintar dan mendapatkan peringkat pertama dari semester pertama hingga
sekarang ini. Sekarang dia sudah kelas 11 di SMA Bhakti Tunas Bangsa yang
menjadi sekolah favorit. Sela di sekolahnya menjadi anak yang pendiam dan
jarang keluar kelas. Dia selalu membaca koleksi novel-novelnya atau
mendengarkan musik dengan menggunakan headset kesayangannya yang berwarna biru.
Setelah bel istirahat, Sela dan Windi pergi ke
perpustakaan. Windi adalah teman sebangkunya Sela. Windi teman yang baik dan
pengertian, Sela sudah dekat sekali dengan Windi. Mereka mencari buku Geografi
yang akan dipelajari selanjutnya setelah bel masuk. Sementara itu, Febby
sekolahnya masih SMP kelas 9 di SMP Bhakti Cipta. Sekolah itu juga adalah
sekolah SMP favorit. Kelakuan Febby berbeda jauh dengan kakaknya. Febby lebih
suka bermain bersama teman-temannya di kantin daripada di perpustakaan.
Suara bel di SMA Bhakti Tunas Bangsa dan SMP Bhakti Cipta
telah berbunyi. Seperti yang Sela katakan, dia tidak langsung pulang melainkan
dia melakukan kegiatan ekskul terlebih dahulu. Berbeda halnya dengan Febby,
pulang sekolah dia menelpon ibunya.
“hallo
bu Assalamualaikum, bu maaf Febby ngga bisa langsung pulang ke rumah, karena
Febby mau ngerjain tugas dulu di rumah teman”. Ucap Febby di telponnya.
“Waalaikumsalam
iya Febby, asalkan jangan lama-lama. Usahakan kamu pulang bersama kakakmu ya?”
jawab ibunya.
“iih
Ibu apaan sih? Kenapa harus pulang sama ka Sela. Febby ga mau, Febby bisa
pulang sendiri ko bu. Terimakasih ya bu. Assalamualaikum”. Jawab Febby sambil
menutup telponnya.
Tapi Febby bukannya mengerjakan tugas, melainkan
Febby malah main bersama teman-temannya ke Mall yang tidak jauh dari
sekolahannya. Dia asik berbelanja dan menghabiskan uang yang diberi oleh
Ayahnya untuk membeli barang yang tidak penting. Sedangkan Sela setelah selesai
ekskul, dia langsung segera pulang ke rumah dengan wajah yang kusut karena
lelah.
“Sel,
kamu ga makan dulu?” tanya ibu.
“engga
bu, nanti saja sekalian makan malam. Sekarang Sela cape dan gerah. Sela mau
mandi dulu Bu.” Jawab Sela sambil naik tangga dan masuk kamar.
Jam 7 malam, Febby belum saja pulang ke rumah sedangkan
ayahnya sudah ada di jalan menuju pulang. Sela masih saja diam di kamar karena
kelelahan. Ibu menelpon Febby terus menerus. Namun Febby tidak mengangkatnya.
Dia membuat Ibu sangat cemas. Bel rumah berbunyi dan setelah pintu dibuka
ternyata Febby sudah pulang. Ibu segera memarahi dan menyuruh Febby untuk
segera mandi dan makan malam bersama.
Ayah sudah pulang. Ayah bergegas ke kamar dan
setelah itu mandi kemudian makan malam. Sela keluar kamar menuju ke ruang
makan. Mereka makan malam bersama tanpa ada percakapan sedikitpun. Setelah
makan malam selesai. Semua bubar dan melanjutkan tidur di kamar karena semua
kelelahan.
KRIIIIIIIIIIINNNNNNNGGG!!!
KRRIIINNGG!!! suara jam beker berbunyi membangunkan tidur Sela yang sangat
nyenyak itu. BRUUKK. Karena Sela masih merasa ngantuk. Tak ragu-ragu dia
memukul jam beker itu. “siiaaal, berisik banget sih ini jam.” 5 menit kemudian
Sela bangun dan langsung menuju ke kamar mandi untuk mandi. Ternyata Febby
sudah lebih dulu masuk ke kamar mandi.
“Heii,
siapa nih? Cepetan dong. Sela udah ga kuat kebelet.” Tanya Sela sambil mengedor
ngedor pintu kamar mandi.
“ini
gue Sel. Tunggu bentar napa sih? Tanggung nih belum kelar.” Sentak Febby.
“kamu
itu ga bener Feb, sama kakak kamu sendiri, kamu jawabnya kaya gitu. Makanya jangan
gaul sembarangan dong!” serang Sela.
“maud
amu apa ih?” jawab febby sambil menggosok giginya.
“kamu
ngomong apa Feb?” tanya Sela.
“maksud
kamu apa sih?” tanya Febby lagi sambil berkumur-kumur.
“emangnya
kakak ga tau apa kelakuan kamu diluar Feb? Kemarin kan kamu ke Mall. Bukan
ngerjain tugas? Kakak bilangin ke Ibu, baru kamu tahu rasa!” ancam Sela dengan
mondar-mandir karena tak tahan menahan rasa ingin buang air kecil.
“HAAAAAAHH?
Lo tau darimana Sel?” bentak Febby dengan raut wajah yang tegang.
“jangan
banyak nanya, sekarang cepetan kamu keluar. Kakak tak kuat ingin buang air
kecil.” Jawab Sela sambil tertawa kecil karena Sela hanya mengada-ngada tentang
pernyataan tersebut namun tetapi pernyataan itu memang benar.
“Sel,
please lo jangan bilang semua ini ke Ibu yaaaa?” pinta Febby sambil keluar dari
kamar mandi.
“tergantung
kamu Feb, sopan dong kalo jadi orang!” jawab Sela sambil masuk ke kamar mandi.
“oke
gue ngalah. Kakak gue yang cantik. Gue minta maaf ya? Please kakak ngga bilang
apapun sama Ibu dan Ayah.” Pinta Febby lagi dengan memohon-mohon.
Sela tidak menjawab Febby dan melanjutkan mandinya.
Setelah selesai mandi. Ia segera memakai seragam dan bersiap-siap untuk
berangkat sekolah. Setelah semuanya selesai. Meraka berkumpul di ruang makan
dan sarapan roti bakar yang telah di sediakan oleh Ibu. Hingga habis dan
seperti biasa Ayah berangkat kerja, Febby dan Sela sekolah.
Tidak seperti biasanya, pagi itu Sela diajak untuk
pergi berangkat sekolah secara tiba-tiba oleh Febby dengan menggunakan mobil
Ayahnya. “mungkin Febby sudah bisa dewasa”
pikir ayahnya. Mereka berangkat bersama-sama pagi itu.
Gara-gara ancaman Sela itu kepada Febby. Sekarang
Febby berubah menjadi baik. gara-gara ancaman itu juga Febby sekarang jadi
tidak pernah berbohong lagi kepada orang tuanya. Mungkin berkat ancaman Sela
yang membuat efek jera terhadap Febby. Uang yang ayahnya berikanpun dia
kumpulkan, tidak digunakan untuk shoping bersama teman-temannya lagi. Perubahan
yang amat sangat baik dari dalam diri Febby yang membuat orang tuanya kagum
terhadap sikap barunya itu.
Disekolahan,
Febby sekarang menjadi anak yang rajin. Guru-gurunya ikut kagum dengan
perubahan yang di alami oleh Febby. Intinya sekarang Febby benar-benar menjadi
gadis yang baik dan manis. Bel pulang di sekolahan Sela dan Febby berbunyi. Itu
waktunya untuk pulang. Sela menelpon Ibunya untuk izin pulang telat karena Sela
akan pergi ke toko buku dengan Windi.
“Assalamualaikum
Ibu. Bu Sela hari ini pasti akan pulang telat Bu. Sela minta izin karena Sela
hari ini akan pergi ke toko buku bersama Windi.” Ucap Sela mengawali
pembicaraan.
“Waalaikumsalam.
Oh iya nak silahkan, asalkan hari-hati saja ya Sela. Bila sudah selesai
hendaklah pulang!” jawab ibu dengan suara yang cemas.
“iya
Bu. Sela pasti akan langsung pulang bu. Sebelumnya Sela ingin minta maaf
terlebih dahulu kepada Ibu. Maafkan Sela ya bu bila Sela mempunyai kesalahan?
Sela sayang Ibu. Terimakasih Bu. Assalamualaikum.” Ucap Sela dengan senyuman
manis.
“iya
anakku. Ibu memaafkanmu. Ibu menyayangimu nak. Hati-hati Sel. Waalaikumsalam.”
Jawab ibu.
Sebelum
Sela berangkat, tidak seperti biasanya Sela mengirimkan pesan singkat kepada
Febby dan Ayahnya.
Assalamualaikum Ayah, Febby. Sela
ingin meminta maaf kepada Ayah dan Febby. Karena Sela takut mempunyai kesalahan.
Terutama sama kamu Feb. Kakak minta maaf ya? Sela sangat menyayangi Ayah dan
Febby adikku yang manis. Wassalamualaikum.
Ayahnya
membalas pesan singkatnya itu dengan sebuah pesan singkat lagi.
Waalaikumsalam Iya Sel. Ayah
maafkan kamu. Ayah juga minta maaf kalo Ayah belum bisa penuhin semua kemauan
kamu karena Ayah selalu memenuhi keinginannya Febby dulu dibanding kamu. Karena
kamu juga pasti tau kan Febby seperti apa? Ayah sayang padamu Sel.
Wassalamualaikum.
Namun Febby tidak membalas pesan singkat dari Sela
karena isi baterai handphonenya sudah habis jadi handphone itu mati. Setelah
shalat Dzuhur. Sela dan Windi berangkat menggunakan sepeda motor milik Windi.
Mereka membeli buku novel terbaru yang mereka sukai. Sela juga membeli novel
yang isinya tentang persaudaraan yang nanti akan dibungkus menjadi hadiah
bingkisan untuk Febby yang besok ulang tahun.
Novel itu sudah dibungkus dan tertempel selembar
kertas bergambar boneka beruang dengan tulisan UNTUK FEBBY ADIKKU TERSAYANG.
Dijalan menuju pulang, rem motor Windi tiba-tiba tidak bisa digunakan sedangkan
didepan ada tikungan dan dari arah sebelah kiri ada bus yang sedang melaju
kencang. Motor Windi tidak bisa dikendalikan. DUUAARRKK. Bunyi sirine ambulance
membuat jalanan itu menjadi ramai. Semua orang berkumpul.
Jam 4 sore. Febby baru pulang dari sekolah karena
kebetulan di sekolahnya ada kegiatan ekskul. Rumahnya sudah banyak orang yang
berkumpul dengan menggunakan baju hitam dan didepan rumahnya ada bendera
kuning. Di sudut gang. Febby langsung berlari menuju rumah dengan perasaan tak
enak. Sesampainya di rumah. Febby melihat ayah dan ibunya menangis sambil membacakan
surat yasin di samping Sela yang sekujur tubuhnya telah ditutup. Febby
menghampiri ayah dan ibunya dengan menangis.
“Apa
yang terjadi ayaaah? Ibuuu?” tanya Febby dengan histeris.
“Sela,
Sela sudah tidak ada Feb.” Jawab ibunya sambil menangis dan memeluk Febby.
“apaa?
Itu ga mungkin bu. Itu ga mungkiiiin.” Jawab Febby sambil menangis dan
berteriak kencang.
“pasrahkan
sayang. Kakakmu tadi kecelakaan tertabrak bus saat di jalan menuju pulang.”
Jawab ayahnya sambil ikut merangkul Febby.
Disamping ayahnya, ada sebuah bingkisan terakhir
dari Sela untuk Febby. Bingkisan itu adalah hadiah yang tadi Sela beli untuk
Febby yang besok akan berulang tahun. Hadiahnya sangat indah dengan hiasan
pita-pita dan isinya juga adalah novel yang bagus. Febby sangat menyukainya.
Saat pemakaman selesai. Semua kembali pulang
meninggalkan Sela kecuali Febby yang masih menangis sambil memeluk papan nisan
yang bertuliskan “Sela Qadira lahir pada 13-08-1995 wafat 03-11-2012”. Febby
tak henti menangis karena menyesali perilaku dia terhadap kakaknya waktu selama
kakaknya masih ada. Febby juga menyesal karena tadi handphonenya mati sehingga
ia tidak mendapatkan pesan singkat dari Sela dan belum sempat mengucapkan bahwa
“Febby sayang kak Sela”.
Selesai ~